kursor

http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/banana1.gif

Senin, 02 November 2015

Alzheimer

Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia paling umum yang awalnya ditandai oleh melemahnya daya ingat, hingga gangguan otak dalam melakukan perencanaan, penalaran, persepsi, dan berbahasa. Pada penderita Alzheimer, gejala berkembang secara perlahan-lahan seiring waktu. Misalnya yang diawali dengan sebatas lupa soal isi percakapan yang baru saja dibincangkan atau lupa dengan nama obyek dan tempat, bisa berkembang menjadi disorientasi dan perubahan perilaku. Perubahan perilaku dalam hal ini seperti menjadi agresif, penuntut, dan mudah curiga terhadap orang lain. Bahkan jika penyakit Alzheimer sudah mencapai tingkat parah, penderita dapat mengalami halusinasi, masalah dalam berbicara dan berbahasa, serta tidak mampu melakukan aktivitas tanpa dibantu orang lain.

Meski penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, para ahli percaya bahwa penyakit Alzheimer pada umumnya terjadi akibat meningkatnya produksi protein dan khususnya penumpukan protein beta-amyloid di dalam otak yang menyebabkan kematian sel saraf.
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit Alzheimer, di antaranya adalah pertambahan usia, cidera parah di kepala, riwayat kesehatan keluarga atau genetika, dan gaya hidup.
Penyakit Alzheimer rentan diidap oleh orang-orang yang telah berusia di atas 65 tahun dan sebanyak 16 persen diidap oleh mereka yang usianya di atas 80 tahun.
Meski begitu, penyakit yang menjangkiti lebih banyak wanita ketimbang laki-laki ini juga dapat dialami oleh orang-orang yang berusia antara 40 hingga 65 tahun. Diperkirakan sebanyak 5 persen penderita Alzheimer terjadi pada kisaran usia tersebut.

Diagnosis dan pengobatan penyakit Alzheimer

Penderita Alzheimer umumnya hidup sekitar delapan hingga sepuluh tahun setelah gejala muncul, namun ada juga beberapa penderita lainnya yang bisa hidup lebih lama dari itu. Meski penyakit Alzheimer belum ada obatnya, ragam pengobatan yang ada saat ini bertujuan untuk memperlambat perkembangan kondisi serta meredakan gejalanya.
Karena itu segera temui dokter jika daya ingat Anda mengalami perubahan atau Anda khawatir mengidap demensia. Jika penyakit Alzheimer dapat terdiagnosis sejak dini, maka Anda akan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan persiapan serta perencanaan untuk masa depan, dan yang lebih terpenting lagi, Anda akan mendapatkan penanganan lebih cepat yang dapat membantu.
Tidak ada tes khusus untuk membuktikan seseorang mengalami Alzheimer. Dalammendiagnosis penyakit Alzheimer, dokter akan bertanya seputar masalah dan gejala yang dialami pasien. Tes medis mungkin akan dilakukan untuk memastikan kondisi yang dialami pasien bukan karena penyakit lain.
Selain dengan pemberian obat-obatan, penyakit Alzheimer juga dapat ditangani secara psikologis melalui stimulasi kognitif guna memperbaiki ingatan si penderita, memulihkan kemampuannya dalam berbicara maupun dalam memecahkan masalah, serta membantunya hidup semandiri mungkin.

Pencegahan penyakit Alzheimer

Karena penyebab pastinya belum diketahui, sulit untuk mencegah penyakit ini secara pasti. Namun, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mempertahankan kesehatan dan fungsi otak, di antaranya dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, tidak merokok, membatasi konsumsi alkohol, serta rutin memeriksakan diri ke dokter seiring pertambahan usia.
Pada awalnya sebagian besar gejala penyakit Alzheimer sulit untuk dikenali. Kita mungkin mengira penurunan daya ingat adalah hal biasa yang disebabkan oleh bertambahnya usia. Namun ketika gejala penyakit Alzheimer memasuki tahapan lebih lanjut, kondisi ini bisa berdampak signifikan bagi penderitanya.
Tingkat kecepatan berkembangnya gejala penyakit Alzheimer berbeda-beda pada tiap penderitanya, tapi umumnya gejala berkembang secara perlahan-lahan selama beberapa tahun, yaitu ketika sel-sel otak akan berangsur-angsur mati sehingga kinerja pengiriman sinyal di dalam otak makin terganggu. Gejala penyakit Alzheimer dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap menengah, dan tahap akhir.

Tahap awal

Berikut ini adalah contoh-contoh gejala penyakit Alzheimer di tahap awal yang bisa menjadi tanda peringatan bagi Anda.
  • Lupa nama benda atau tempat.
  • Lupa dengan peristiwa yang baru saja terjadi atau percakapan yang baru saja dibincangkan.
  • Suka tersesat, meski di lingkungan sendiri.
  • Salah menaruh barang, misalnya menaruh piring di dalam lemari baju.
  • Sering mengulang pertanyaan yang sama.
  • Kesulitan dalam membuat rincian daftar belanja atau pun membayar tagihan.
  • Mengalami perubahan suasana hati, misalnya dari senang menjadi sedih atau sebaliknya secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
  • Enggan beradaptasi dengan perubahan.
  • Enggan melakukan hal baru.
  • Tidak tertarik lagi terhadap aktivitas yang tadinya disukai.
  • Sering menghabiskan banyak waktu untuk tidur di siang hari.
  • Sulit membuat keputusan.
  • Mudah berburuk sangka.
  • Lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi daripada bersosialisasi dengan keluarga atau pun teman-teman.

Tahap menengah

Di tahap menengah ini, gejala penyakit Alzheimer yang sudah ada sebelumnya menjadi meningkat. Biasanya penderita yang sudah memasuki tahap ini perlu diberi perhatian ekstra dan mulai dibantu dalam aktivitas kesehariannya, Misalnya mandi, menggunakan toilet, berpakaian, dan makan. Berikut ini adalah contoh-contoh gejala penyakit Alzheimer pada tahap menengah.
  • Sulit mengingat nama anggota keluarga sendiri atau teman.
  • Disorientasi dan rasa bingung yang meningkat, misalnya penderita tidak tahu di mana dirinya berada.
  • Mengalami masalah dalam berkomunikasi.
  • Perubahan suasana hati yang makin sering terjadi.
  • Gelisah, frustrasi, cemas, dan depresi.
  • Kadang-kadang mengalami gangguan penglihatan.
  • Mengalami gangguan pada pola tidur.
  • Perilaku impulsif, repetitif, atau obsesif.
  • Mulai mengalami halusinasi atau delusi.

Tahap akhir

Di tahap ini, biasanya penderita penyakit Alzheimer sudah sangat sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari sendirian. Oleh karena itu, mereka membutuhkan pengawasan dan bantuan secara menyeluruh. Contoh-contoh gejala penyakit Alzheimer pada tahap akhir adalah:
  • Penurunan daya ingat yang sudah makin parah.
  • Tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain.
  • Tidak mampu tersenyum.
  • Halusinasi dan delusi yang memburuk, membuat penderitanya menjadi selalu curiga terhadap orang-orang di sekitarnya, bahkan berlaku kasar juga.
  • Tidak mampu bergerak tanpa dibantu orang lain.
  • Buang air kecil atau besar tanpa disadari.
  • Berat badan turun secara signifikan.
  • Tidak lagi memedulikan kebersihan dirinya sendiri.
  • Mengalami kesulitan menelan saat makan.
Jika gejala penyakit Alzheimer pada kerabat atau teman Anda meningkat secara signifikan atau jika Anda sendiri khawatir dengan penurunan daya ingat yang Anda rasakan, maka segeralah temui dokter.
Hingga saat ini penyebab pasti penyakit Alzheimer belum diketahui. Namun melalui penelitian laboratorium tampak jelas bahwa penyakit ini merusak dan mematikan sel-sel otak secara berangsur-angsur. Para ahli berpendapat bahwa matinya sel-sel otak tersebut terjadi akibat gumpalan protein beta-amyloid, serta kusutnya benang-benang protein di dalam sel otak yang menyebabkan peredaran nutrisi atau bahan-bahan lain yang dibutuhkan otak menjadi terganggu.
Ada beberapa faktor risiko yang menurut para ahli dapat memengaruhi otak sehingga memicu penyakit Alzheimer, di antaranya adalah:
  • Umur. Penyakit Alzheimer rentan diidap oleh orang-orang yang telah berusia di atas 65 tahun, dan sebanyak 16 persen diidap oleh mereka yang usianya di atas 80 tahun. Meskipun begitu, sekitar 5 persen kasus Alzheimer terjadi di bawah usia 65.
  • Cedera di kepala. Orang-orang yang yang pernah mengalami cedera berat di kepala memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit Alzheimer.
  • Genetika. Menurut penelitian, mereka yang memiliki orang tua atau saudara dengan Alzheimer akan lebih berisiko terkena penyakit yang sama. Selain itu kurang dari lima persen kasus penyakit Alzheimer terjadi akibat perubahan atau mutasi genetika.
  • Mengidap Down’s syndromeGangguan genetika yang menyebabkan terjadinyaDown’s syndrome juga dapat menyebabkan penumpukan protein beta-amyloid di otak sehingga memicu terjadinya penyakit Alzheimer.
  • Mengidap gangguan kognitif ringan. Mereka dengan gangguan kognitif dan memori lebih berisiko untuk mengalami Alzheimer nantinya.
  • Kebiasaan hidup yang buruk dan kondisi yang berkaitan dengan penyakit jantung.Menurut penelitian faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, juga dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer, misalnya seperti kurang mengonsumsi makanan yang mengandung serat, kebiasaan merokok, kurang berolahraga, mengidap obesitas, menderita hipertensi dan kolesterol tinggi, dandiabetes.
Selain faktor-faktor risiko tersebut, jenis kelamin juga menentukan tingkat kerentanan seseorang untuk terkena penyakit Alzheimer. Menurut penelitian, wanita lebih berisiko terkena penyakit ini ketimbang laki-laki.
Penyakit Alzheimer yang terdiagnosis sejak dini dapat membuat penderita memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan persiapan serta perencanaan untuk masa depan, dan yang lebih terpenting lagi adalah mendapatkan penanganan yang lebih cepat yang dapat membantu.
Dalam mendiagnosis penyakit Alzheimer, dokter akan bertanya terlebih seputar gejala yang dirasakan pasien atau mengenai riwayat kesehatan keluarganya. Tidak ada tes medis khusus untuk membuktikan seseorang mengidap Alzheimer. Pemeriksaan atau tes dilakukan untuk memastikan bahwa kondisi pasien bukan disebabkan oleh penyakit lain. Pemeriksaan lebih lanjut bisa meliputi:
  • Pemeriksaan darah di laboratorium. Pemeriksaan ini dilakukan guna mengetahui apakah ada kondisi lain selain penyakit Alzheimer yang menyebabkan pasien mengalami penurunan daya ingat atau kebingungan, misalnya seperti gangguan tiroid.
  • Pemeriksaan kesehatan saraf. Pemeriksaan ini dilakukan guna mengetahui seberapa baik fungsi saraf pasien, misalnya dengan menguji keseimbangan, koordinasi, daya refleks, kemampuan mendengar atau melihat, dan kekuatan otot saat bangun dari duduk atau pun berjalan.
  • Pemeriksaan mental dan neuropsikologi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan berpikir, daya ingat, serta fungsi mental si pasien, dengan mengacu pada umur serta tingkat pendidikannya.
  • Pemindaian otak. Pemeriksaan ini dilakukan guna mengetahui adanya kelainan di dalam otak yang mungkin dapat menjadi faktor pemicu penyakit Alzheimer. Pemindaian otak dapat dilakukan dengan menggunakan resonansi magnetik atau disebut MRI scan, dan juga dengan menggunakan sinar X atau disebut CT scan.
Biasanya pemeriksaan lebih lanjut untuk mendeteksi penyakit Alzheimer tersebut dilakukan oleh dokter spesialis, misalnya spesialis saraf. 
Penyakit Alzheimer belum dapat disembuhkan. Cara penanganan yang ada saat ini hanya bertujuan untuk meredakan gejala, memperlambat perkembangan penyakit, serta membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin.
Jenis obat-obatan yang biasanya diresepkan oleh dokter untuk penyakit Alzheimer adalah rivastigne, galantamine, donepezil, dan memantine. Keempat obat ini mampu meredakan gejala demensia dengan cara meningkatkan kadar dan aktivitas kimia di dalam otak.
Rivastigne, galantamine, dan donepezil biasanya digunakan untuk menangani penyakit Alzheimer dengan tingkat gejala awal hingga menengah. Sedangkan memantine biasanya diresepkan bagi penderita Alzheimer dengan gejala tahap menengah yang tidak dapat mengonsumsi obat-obatan lainnya. Memantine juga dapat diresepkan pada penderita Alzheimer dengan gejala yang sudah memasuki tahap akhir.
Efek samping yang mungkin timbul dari mengonsumsi rivastigne, galantamine, dandonepezil adalah:
Sedangkan efek samping yang mungkin timbul dari mengonsumsi memantine adalah:
  • Sakit kepala
  • Sesak napas
  • Konstipasi
  • Rasa lelah
  • Gangguan keseimbangan
Selain melalui obat-obatan, pengobatan psikologis juga dapat diterapkan untuk menangani penyakit Alzheimer.
  • Stimulasi kognitif. Metode ini bertujuan meningkatkan daya ingat, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan dalam memecahkan masalah.
  • Terapi relaksasi dan terapi perilaku kognitif. Metode ini bertujuan mengurangi halusinasi, delusi, agitasi, kecemasan, depresi yang dialami oleh penderita Alzheimer.
Penurunan kognitif pada penderita penyakit Alzheimer tidak hanya dapat diperlambat dengan obat-obatan atau pun terapi psikologis, namun juga sebaiknya dikombinasikan dengan penerapan pola hidup sehat di rumah agar hasilnya lebih maksimal. Seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan sehat yang rendah lemak, serta kaya serat dan omega-3, lebih sering bersosialisasi, melakukan kegiatan yang dapat menstimulasi pikiran seperti mengisi teka-teki silang atau membaca buku.
Jika Anda menderita penyakit Alzheimer atau memiliki keluarga yang menderita penyakit ini, lakukanlah tips berikut ini di rumah.
  • Buatlah catatan mengenai hal-hal yang ingin Anda lakukan, dan tempel catatan tersebut di pintu, kulkas, dekat televisi, atau di mana pun yang mudah Anda lihat.
  • Setel alarm pada jam atau ponsel sebagai pengingat, atau beri tahu orang yang Anda percaya mengenai rencana kegiatan yang akan Anda lakukan, dan mintalah pada mereka untuk mengingatkan.
  • Simpan kontak kerabat, teman-teman, atau orang-orang yang Anda butuhkan di buku telepon dan di ponsel.
  • Simpan kunci di tempat yang biasanya Anda ingat dan mudah terlihat.
  • Setel tanggal secara tepat pada ponsel agar Anda tidak lupa dengan hari atau bila perlu mulailah berlangganan surat kabar tiap hari.
  • Tempelkan label pada tiap wadah tertutup agar Anda tidak lupa isinya, misalnya pada laci atau lemari makanan.
  • Pasang pegangan pada tangga atau kamar mandi untuk menghindari terjatuh.
  • Kurangi jumlah cermin karena dapat membuat penderita Alzheimer kebingungan atau bahkan ketakutan.
  • Atur perabotan agar tidak mengganggu dan membahayakan gerak penderita.
  • Hingga kini belum ada cara pasti dalam mencegah penyakit Alzheimer karena penyebabnya yang belum diketahui. Namun dengan makin banyaknya informasi yang didapat dari penelitian, bukan tidak mungkin suatu saat nanti cara mencegah atau pun mengobati Alzheimer dapat ditemukan.
    Penyakit jantung sering dikaitkan dengan risiko mengidap penyakit  Alzheimer. Jika seseorang memiliki risiko tinggi terkena penyakit jantung, maka dirinya pun lebih rentan terkena penyakit Alzheimer. Karena itu lakukanlah beberapa langkah berikut ini agar jantung tetap sehat dan terhindar dari risiko terkena penyakit Alzheimer.
    • Konsumsi makanan sehat yang kadar lemak dan kolesterolnya rendah. Tingkatkan asupan serat, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.
    • Berhenti merokok dan batasi konsumsi minuman keras.
    • Jika Anda menderita strokediabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi, teraturlah dalam mengonsumsi obat yang disarankan oleh dokter, serta menjalani nasihat dari dokter mengenai pola hidup sehat.
    • Jika Anda mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, berusahalah untuk menurunkan berat badan secara aman.
    • Pastikan Anda selalu rutin memeriksakan tekanan darah, serta kadar kolesterol dan gula secara teratur agar Anda selalu waspada.
    • Berolahraga secara rutin sedikitnya dua setengah jam tiap minggu, seperti bersepeda atau berjalan kaki.
    Umumnya, orang-orang yang aktif secara sosial, fisik, dan mental tidak akan mudah terkena penyakit Alzheimer. Karena itu lakukanlah hal-hal yang menyenangkan yang dapat menstimulasi gerak tubuh dan pikiran Anda. Misalnya dengan mengikuti gerak jalan, menulis blog santai, membaca, bermain musik, dan bermain bulu tangkis.

Disleksia

Banyak orang yang menganggap bahwa disleksia dapat memengaruhi tingkat inteligensi atau kecerdasan penderitanya, tapi anggapan ini tidaklah benar. Anak dengan tingkat kecerdasan baik rendah maupun tinggi, bisa menderita disleksia. Disleksia adalah salah satu jenis gangguan atau kesulitan belajar yang umumnya memengaruhi kemampuan membaca serta pengejaan seseorang.
sweet little girl bored under stress with a tired face expression

Penyebab dan Gejala Disleksia

Penyebab disleksia belum diketahui secara pasti. Para pakar menduga faktor keturunan atau genetika berperan di balik gangguan belajar ini. Seorang anak memiliki risiko menderita disleksia jika orang tuanya menderita gangguan yang sama.
Gejala-gejala dalam disleksia sangat bervariasi dan umumnya tidak sama untuk tiap penderita sehingga sulit dikenali, terutama sebelum sang anak memasuki usia sekolah. Ada beberapa gen keturunan yang dianggap dapat memengaruhi perkembangan otak yang mengendalikan fonologi, yaitu kemampuan dan ketelitian dalam memahami suara atau bahasa lisan. Misalnya membedakan kata “paku” dengan kata “palu”.
Selain masalah pada kepekaan fonologi, gejala disleksia juga bisa berupa hal-hal berikut:
  • Kurang memori verbal untuk mengingat urutan informasi secara lisan dalam jangka waktu singkat, semacam perintah singkat seperti menaruh tas dan kemudian mencuci tangan.
  • Kesulitan dalam mengurutkan dan mengucapkan sesuatu dalam kata-kata, misalnya urutan angka, menamai warna-warna, atau benda.
  • Kesulitan memroses informasi lisan, misalnya saat mencatat nomor telepon atau didikte.
Pada balita, disleksia dapat dikenali melalui perkembangan bicara yang lebih lamban dibandingkan anak-anak seusianya dan membutuhkan waktu lama untuk belajar kata baru. Misalnya keliru menyebut kata “ibu” menjadi kata “ubi”. Kesulitan menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan diri dan kurang memahami kata-kata yang memiliki rima.
Indikasi disleksia biasa akan lebih jelas ketika anak mulai belajar membaca dan menulis di sekolah. Anak Anda akan mengalami beberapa kesulitan seperti:
  • Sulit memroses dan memahami apa yang didengarnya.
  • Lamban dalam mempelajari nama dan bunyi abjad.
  • Sering salah atau terlalu pelan saat membaca.
  • Sulit mengingat urutan, misalnya urutan abjad atau nama hari.
  • Sulit mengeja, misalnya huruf “d” sering tertukar dengan huruf “b”.
  • Cara baca yang terbata-bata atau sering salah.
  • Kesulitan mengucapkan kata yang baru dikenal.
  • Lamban dalam menulis, misalnya saat didikte atau menyalin tulisan.
  • Memiliki kepekaan fonologi yang rendah.
Karena sulit dikenali, gejala-gejala disleksia juga ada yang baru disadari setelah penderita beranjak remaja bahkan dewasa. Beberapa di antaranya adalah:
  • Kesulitan membaca dan mengeja.
  • Kesulitan menyalin catatan serta membuat karya tulis, misalnya makalah atau laporan.
  • Sering tidak memahami lelucon atau makna bahasa kiasan, misalnya istilah “otak encer” yang berarti pintar.
  • Kesulitan untuk mengatur waktu, misalnya tenggat waktu dalam tugas.
  • Kesulitan mengingat hal-hal yang berurutan, misalnya nomor telepon.
  • Cenderung menghindari kegiatan membaca dan menulis.
  • Kesulitan berhitung.
Jika Anda mencemaskan perkembangan kemampuan membaca dan menulis anak Anda yang terasa lambat, hubungilah dokter. Terutama jika Anda mengenali gejala-gejala disleksia lain yang dialami anak Anda.

Diagnosis dan Penanganan Disleksia

Sebelum ke dokter atau spesialis, Anda sebaiknya mencari tahu tentang kelebihan serta kekurangan dalam kemampuan anak lebih dulu. Proses ini dapat dilakukan melalui permainan, misalnya puzzle gambar. Jika memungkinkan, Anda juga dapat meminta bantuan dari guru sekolah seperti meminta guru untuk memberikan program remedial.
Disleksia cenderung sulit untuk dideteksi karena gejalanya yang beragam. Diagnosis gangguan ini membutuhkan penilaian dari banyak faktor. Di antaranya:
  • Riwayat, perkembangan, pendidikan, dan kesehatan anak.
  • Keadaan di rumah.
  • Pengisian kuesioner oleh anggota keluarga serta guru sekolah.
  • Tes untuk memeriksa kemampuan memahami informasi, membaca, memori, dan bahasa anak.
  • Pemeriksaan penglihatan, pendengaran, dan neurologi anak untuk menghapus kemungkinan adanya penyakit atau gangguan lain yang menyebabkan gejala-gejala yang dialami.
  • Tes psikologi untuk memahami kondisi kejiwaan anak dan menghapus kemungkinan adanya gangguan interaksi, kecemasan, atau depresi yang dapat memengaruhi kemampuannya.
Setelah hasil diagnosis disleksia sudah pasti, dokter akan menganjurkan penanganan yang sebaiknya dijalani. Disleksia memang tidak bisa disembuhkan, tapi pendeteksian dan penanganan dini terbukti sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan penderita, khususnya membaca.
Salah satu bentuk penanganan yang dapat membantu penderita disleksia adalah pendekatan dan bantuan edukasi yang lebih. Penentuan jenis intervensi yang cocok biasanya tergantung pada tingkat keparahan serta hasil tes psikologi penderita.
Bagi penderita disleksia anak-anak, penelitian menunjukkan bahwa intervensi edukasi paling efektif jika diberikan sebelum anak mencapai usia delapan tahun. Jenis intervensi yang paling membantu dalam meningkatkan kemampuan baca dan tulis adalah intervensi yang berfokus pada kemampuan fonologi. Intervensi ini biasanya disebut fonik.
Penderita disleksia juga akan diajari elemen-elemen dasar seperti belajar mengenali fonem atau satuan bunyi terkecil dalam kata-kata, memahami huruf dan susunan huruf yang membentuk bunyi tersebut, memahami apa yang dibaca, membaca bersuara, dan membangun kosakata.
Selain dengan intervensi edukasi, orang tua juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan anak. Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan membacakan buku yang menarik minat anak. Kegiatan ini dapat Anda lakukan lebih dari sekali agar anak dapat terbiasa dengan teks dalam buku. Menyemangati dan membujuk anak untuk membaca buku, lalu mendiskusikan isinya bersama-sama akan berguna.
Orang tua juga dianjurkan untuk tidak mencela saat anak melakukan kesalahan dalam membaca sehingga kepercayaan diri anak juga dapat dibangun.
Intervensi edukasi tidak hanya berguna bagi penderita disleksia anak-anak, tapi juga untuk penderita remaja dan dewasa dalam meningkatkan kemampuan baca dan tulis mereka. Di samping itu, melibatkan bantuan teknologi seperti program komputer dengan perangkat lunak pengenalan suara juga umumnya dapat bermanfaat.
Penanganan disleksia membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Karena itu, keluarga serta penderita dianjurkan untuk bersabar menjalaninya. Dukungan serta bantuan dari anggota keluarga serta teman dekat akan sangat membantu.

Vertigo

alodokter-vertigo
Vertigo merupakan suatu gejala dengan sensasi diri sendiri atau sekeliling terasa berputar. Ada kondisi vertigo yang ringan serta tidak terlalu terasa dan ada yang parah sehingga menghambat rutinitas.
Serangan vertigo cukup bervariasi, mulai dari yang berlangsung selama beberapa detik hingga lebih lama. Serangan vertigo yang parah bisa terus berlangsung selama beberapa hari sehingga penderitanya tidak bisa beraktivitas secara normal.
Gejala lain yang berhubungan dengan vertigo adalah kehilangan keseimbangan yang akan membuat penderita sulit berdiri atau berjalan, mual atau muntah, dan pening.
Konsultasikanlah ke dokter jika vertigo Anda berlangsung terus-menerus. Dokter biasanya akan menanyakan gejala Anda dan melakukan pemeriksaan sederhana. Selain itu, dokter mungkin akan menganjurkan pemeriksaan lebih lanjut jika Anda sering mengalami vertigo untuk memastikan diagnosis vertigo Anda.

Berbagai Penyebab Vertigo

Penyebab vertigo yang paling umum adalah gangguan pada mekanisme keseimbangan yang terletak di telinga bagian dalam. Penyebab umum lainnya adalah:
  • Migrain – pusing tidak tertahankan.
  • Vertigo Posisi Paroksismal Jinak atau istilah umumnya Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BBPV) – vertigo yang dipicu oleh perubahan posisi kepala tertentu.
  • Vestibular neuritis– inflamasi saraf vestibular yang ada di telinga bagian dalam.
  • Penyakit Meniere – penyakit langka yang menyerang telinga bagian dalam.
Selain penyebab di atas, vertigo bisa disebabkan oleh gangguan pada bagian otak. Gejala tambahan yang biasa dialami penderita dalam beberapa kasus vertigo meliputi demamtinggi, tinnitus (telinga berdengung), dan kehilangan pendengaran.
Sebelum mengadakan pemeriksaan sederhana untuk membedakan vertigo dan pusingbiasa, dokter biasanya akan menanyakan gejala Anda terlebih dulu. Dokter juga terkadang menganjurkan pemeriksaan lebih lanjut jika diperlukan.
Untuk memberikan diagnosis yang akurat, dokter akan meminta Anda untuk mendeskripsikan gejala yang Anda alami. Misalnya mengenai situasi pada serangan pertama Anda, durasi, frekuensi kemunculan, pemicu, serta tingkat pengaruh gejala pada kehidupan sehari-hari.
Anda juga perlu menceritakan secara mendetail jika serangan vertigo yang Anda alami disertai gejala-gejala lain. Di antaranya adalah perubahan pada pendengaran, tinnitus,atau muntah-muntah.
Dokter juga biasanya akan menanyakan riwayat kesehatan Anda serta keluarga. Misalnya, apakah ada anggota keluarga Anda yang juga mengalami vertigo, obat-obatan yang Anda gunakan secara rutin, serta apakah Anda pernah mengalami infeksi telinga atau cedera kepala dalam waktu dekat.
Langkah-langkah Diagnosis Vertigo
Pemeriksaan dengan cara memicu vertigo
Vertigo adalah gejala yang bisa disebabkan beberapa penyakit. Karena itu, dokter juga biasanya akan menganjurkan pemeriksaan kesehatan untuk membedakan penyebabnya. Proses ini meliputi pemeriksaan bagian dalam telinga dan pemeriksaan mata untuk mengecek ada atau tidaknya gerakan bola mata yang tidak terkendali (nistagmus).
Dokter juga mungkin akan memeriksa keseimbangan atau memancing vertigo Anda dengan manuver Dix-Hallpike. Penyebab vertigo yang paling sering didiagnosis dengan proses ini adalah Vertigo Posisi Paroksismal Jinak (BPPV).
Pemeriksaan pendengaran ke spesialis THT
Pemeriksaan lewat tes garpu tala dan tes audiometri ini akan dilakukan oleh dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) jika Anda mengalami tinnitus (telinga berdengung) atau kehilangan pendengaran.
Pemeriksaan nistagmus
Nistagmus dapat mengindikasikan adanya masalah pada organ-organ yang mengendalikan keseimbangan tubuh dan pemeriksaan mendetailnya terkadang menggunakan proses elektronistagmografi (ENG) dan proses perekaman gerakan mata dengan kacamata videonistagmografi (VNG).
Pengujian kalorik untuk organ keseimbangan
Tes ini menggunakan air hangat atau dingin yang akan dituang ke telinga untuk memeriksa kinerja organ keseimbangan dalam telinga yang sudah dirangsang oleh perubahan suhu dari air.
Posturography untuk memeriksa keseimbangan
Posturography akan membantu perencanaan rehabilitasi sekaligus memantau proses pengobatan dan menggunakan mesin penguji keseimbangan.
Proses pemindaian di kepala
Dokter juga terkadang menganjurkan MRI scan atau CT scan pada bagian kepala untuk memeriksa penyebab vertigo, misalnya neuroma akustik (tumor jinak).

Langkah Pengobatan Vertigo

Vertigo sendiri merupakan suatu gejala dan bukan sebuah penyakit. Karena itu, cara mengatasi gejala vertigo tergantung pada penyakit yang menyebabkannya.
Beberapa kasus vertigo, seperti yang disebabkan oleh vestibular neuritis (jenis infeksi telinga akibat virus), terkadang bisa sembuh tanpa pengobatan. Tetapi penderita penyakit Meniere biasanya sering mengalami vertigo selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Ada beberapa penyebab vertigo yang membutuhkan langkah pengobatan khusus. Misalnya BBPV yang sebagian besar dapat disembuhkan dengan manuver Epley yang termasuk prosedur korektif sederhana.
Obat-obatan, seperti prochlorperazine dan antihistamin, juga umumnya dapat membantu menyembuhkan vertigo. Tetapi obat-obatan tersebut biasanya hanya efektif untuk tahap awal dan sebaiknya tidak digunakan untuk jangka panjang.
Terapi rehabilitasi vestibular dari ahli terapis juga bisa membantu banyak penderita vertigo. Terapi ini dapat membantu otak untuk beradaptasi dengan sinyal membingungkan dari telinga yang jadi penyebab vertigo sehingga frekuensinya berkurang.
Pengobatan vertigo tergantung dari penyebab dan tingkat keparahannya. Rasa mual dan sensasi berputar mungkin dapat dikurangi dengan berbaring diam dalam ruangan gelap. Anda juga dianjurkan untuk minum obat di saat yang sama. Menghindari situasi yang memicu stres juga akan membantu karena kecemasan akan memperparah vertigo.

Vertigo Posisi Paroksismal Jinak (Benign Paroxysmal Positional Vertigo/BPPV)

Vertigo Posisi Paroksismal Jinak (BPPV) sering sembuh dalam beberapa minggu atau beberapa bulan tanpa pengobatan. Para pakar memperkirakan bahwa kesembuhan terjadi karena debris dalam saluran telinga yang menyebabkan vertigo sudah lumer atau menempel di bagian lain.
Tetapi BPPV terkadang bisa kambuh. Selama BPPV belum sembuh sepenuhnya, Anda sebaiknya bangun tidur secara perlahan-lahan serta menghindari kegiatan yang menuntut Anda untuk mendongak, seperti melukis, mendekorasi, atau mencari sesuatu di rak atas. Penyakit ini juga bisa diobati dengan manuver Epley.
Pengobatan gejala vertigo dengan manuver Epley
Prosedur yang juga disebut teknik reposisi kanalit ini terbukti efektif untuk mengobati gejala vertigo. Manuver Epley meliputi empat gerakan kepala yang berbeda untuk memindahkan debris penyebab vertigo ke bagian lain. Tiap posisi kepala akan ditahan minimal 30 detik. Anda mungkin akan mengalami vertigo selama menjalani prosedur.
Kondisi Anda umumnya akan membaik tidak lama setelah melakukan manuver Epley, tapi diperlukan waktu selama maksimal dua minggu untuk sembuh total. Prosedur ini biasanya tidak perlu diulang. Konsultasikanlah ke dokter jika tidak ada perubahan pada kondisi Anda setelah empat minggu.
Instruksi agar pasien tidak berbaring lurus selama 48 jam setelah prosedur juga dianggap tidak dibutuhkan lagi. Pada umumnya pengobatan ini bukanlah pengobatan dengan efek permanen dan mungkin perlu diulang di suatu waktu.
Pengobatan gejala vertigo dengan latihan Brandt-Daroff
Jika Anda memiliki masalah pada leher atau punggung, manuver Epley kurang cocok untuk Anda. Karena itu, Anda sebaiknya mencoba latihan Brandt-Daroff. Prosedur ini adalah rangkaian gerakan pereda BBPV yang bisa Anda lakukan sendiri di rumah.
Tetapi Anda dianjurkan untuk mempelajarinya terlebih dahulu dari dokter. Lakukanlah 3-4 kali berturut-turut selama 1-2 hari. Kondisi Anda biasanya akan membaik dalam maksimal dua minggu.

Saran untuk BPPV

Jika manuver Epley tidak efektif untuk Anda, kondisi Anda tidak membaik setelah empat minggu, atau Anda memiliki gejala yang tidak biasa, dokter biasanya akan merujuk Anda ke dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT).
Walau jarang terjadi, vertigo juga bisa berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Hal ini mungkin disebabkan oleh tersumbatnya saluran yang penuh cairan dalam telinga. Dokter spesialis THT akan menjelaskannya pada Anda dan mungkin menganjurkan operasi jika perlu.

Migrain yang Memicu Vertigo

Jika migrain didiagnosis sebagai penyebab vertigo, penderita bisa menjalani pengobatan di rumah dan menggunakan obat-obatan yang sama dengan migrain, misalnya triptan.

Infeksi Labirinitis

Labirinitis adalah infeksi yang menyebabkan peradangan pada labirin, struktur sensitif yang terletak di bagian terdalam telinga. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus dan dapat sembuh tanpa pengobatan. Walau jarang terjadi, infeksi bakteri juga mungkin dapat menyebabkan labirintitis dan biasanya diobati dengan antibiotik.
Dokter mungkin akan merujuk Anda ke dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) atau dokter spesialis audiovestibular (dokter yang khusus menangani kelainan pendengaran dan keseimbangan) jika Anda kehilangan pendengaran. Anda mungkin membutuhkan penanganan darurat untuk mengembalikan pendengaran Anda.
Selain itu, penyakit ini bisa ditangani dengan terapi rehabilitasi vestibular. Walau jenis terapi ini masih sangat jarang di Indonesia, Anda bisa menanyakannya lebih lanjut kepada dokter Anda.

Inflamasi Saraf Akibat Virus

Vestibular adalah salah satu saraf dalam mekanisme keseimbangan yang terletak di telinga. Vestibular neuritis adalah inflamasi pada saraf vestibular yang biasanya disebabkan oleh infeksi virus.
Walau penyakit ini memang bisa sembuh dalam beberapa minggu tanpa pengobatan, Anda mungkin harus terus berbaring jika Anda mengalami vestibular neuritis yang parah. Segeralah ke dokter jika kondisi Anda tidak membaik setelah satu minggu. Penyakit ini juga bisa ditangani dengan terapi rehabilitasi vestibular dan obat.
Keseimbangan Anda juga mungkin akan terpengaruh jika Anda mengonsumsi minuman keras, kelelahan, dan memiliki penyakit lain. Karena itu jagalah kesehatan Anda dan hindarilah konsumsi minuman keras.

Saran untuk Vertigo Sentral

Masalah pada serebelum yang terletak tepat di atas batang otak atau pada batang otak yang terhubung dengan saraf tulang belakang dapat menyebabkan vertigo sentral. Selain migrain yang jadi penyebab utama vertigo sentral, tumor otak juga termasuk penyebabnya walau sangat jarang.
Dokter biasanya akan merujuk Anda pada dokter spesialis saraf, dokter spesialis THT, atau dokter spesialis audiovestibular jika menduga Anda mengalami vertigo sentral.

Penyakit Meniere yang Langka

Penyakit Meniere adalah penyakit langka yang menyerang telinga bagian dalam. Jika vertigo Anda disebabkan oleh penyakit ini, ada beberapa langkah efektif untuk sekaligus menangani keduanya. Yaitu:
  • Obat untuk mencegah serangan penyakit Meniere.
  • Obat untuk menangani serangan penyakit Meniere.
  • Saran untuk pola makan, terutama yang rendah garam.
  • Fisioterapi untuk mengatasi gangguan keseimbangan.
  • Penanganan untuk kehilangan pendengaran, misalnya alat bantu dengar.
  • Perawatan untuk tinnitus (telinga berdengung), misalnya terapi suara yang dapat mengurangi perbedaan antara kebisingan tinnitus dengan suara lain agar gangguantinnitus terasa berkurang.
  • Penanganan untuk gejala sekunder dari penyakit Meniere, misalnya stres, kecemasan, dan depresi.

Langkah Terapi Rehabilitasi Vestibular

Terapi yang biasa disebut Latihan Rehabilitasi Vestibular (Vestibular Rehabilitation Training/VRT) ini meliputi latihan khusus untuk mendorong agar otak beradaptasi terhadap sinyal pemicu dari telinga. Otak dirangsang untuk mengandalkan sinyal-sinyal dari bagian lain tubuh, misalnya mata dan kaki, daripada telinga bagian dalam. Jika sudah terbiasa, otak akan meminimalkan gejala vertigo dan ikut memertahankan keseimbangan tubuh. Terapi ini dilakukan dengan bimbingan dokter spesialis audiologi atau ahli fisioterapi.

Obat-obatan yang Bisa Digunakan

  • Serangan vertigo yang dapat ditangani dengan obat adalah:
  • Vertigo yang disebabkan vestibular neuritis atau penyakit Meniere.
  • Vertigo sentral.
  • Vertigo tanpa penyebab jelas.
Durasi minum obat yang diberikan dokter tergantung pada tingkat keparahan vertigo, tapi biasanya untuk setengah sampai dua minggu. Obat-obat yang umumnya diberikan adalah:
Prochlorperazine
Prochlorperazine akan memblokir pengaruh senyawa kimia otak yang disebut dopamin. Obat ini membantu meredakan mual dan muntah yang parah akibat vertigo.
Efek samping dari prochlorperazine adalah tremor (gemetar), gerakan tubuh atau wajah yang tidak terkendali, serta rasa kantuk.
Antihistamin
Antihistamin akan memblokir pengaruh senyawa kimia yang disebut histamin. Obat ini dapat digunakan untuk meredakan mual, muntah, serta gejala vertigo yang lebih ringan. jenis antihistamin yang biasanya akan diberikan dokter adalah cinnarizine, cyclizine, dan promethazine theoclate.
Selain kantuk, obat ini juga mungkin akan menyebabkan efek samping seperti sakit kepala dan sakit perut.
Betahistine yang digunakan untuk mengobati penyakit Meniere dan gangguan keseimbangan lain juga memiliki cara kerja yang mirip dengan antihistamin. Obat ini biasanya diberikan untuk jangka panjang, tapi keefektifannya berbeda-beda pada tiap orang.

Pengobatan Perorangan Untuk Vertigo

Ada beberapa saran untuk mengurangi atau mencegah gejala-gejala vertigo yang biasanya diberikan oleh dokter serta spesialis yang menangani Anda. Di antaranya:
  • Menghindari gerakan secara tiba-tiba agar tidak terjatuh.
  • Segera duduk jika vertigo menyerang.
  • Gunakan beberapa bantal agar posisi kepala saat tidur menjadi lebih tinggi.
  • Gerakkan kepala secara perlahan-lahan.
  • Hindari gerakan kepala mendongak, berjongkok, atau tubuh membungkuk.
  • Mintalah bantuan orang lain untuk melakukan latihan sederhana dalam upaya mengurangi gejala-gejala vertigo.
  • Kenalilah hal-hal yang dapat memicu vertigo Anda.