kursor

http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/banana1.gif

Senin, 19 Oktober 2015

Epilepsi



Penyakit epilepsi mungkin tidak asing di telinga kita. Kata “epilepsi” sendiri sebenarnya merupakan istilah umum yang berarti “kecenderungan untuk kejang”.
Epilepsi dapat mulai diderita seseorang pada usia kapan saja, meski umumnya kondisi ini terjadi sejak masa kanak-kanak. Berdasarkan temuan penyebabnya, epilepsi dibagi menjadi tiga, yaitu epilepsi simptomatik, kriptogenik, dan idiopatik.
Pada epilepsi simptomatik, umumnya kejang-kejang diakibatkan oleh adanya gangguan atau kerusakan pada otak. Bertolak belakang dengan simptomatik, penyebab kejang pada epilepsi idiopatik sama sekali tidak ditemukan. Sedangkan pada epilepsi kriptogenik, meski tidak ditemukannya bukti kerusakan struktur pada otak, namun gangguan belajar yang diderita menunjukkan adanya kerusakan.
Di dalam otak kita terdapat neuron atau sel-sel saraf. Sel saraf merupakan bagian dari sistem saraf yang berfungsi sebagai pengatur kesadaran, kemampuan berpikir, gerak tubuh, dan sistem panca indera kita. Tiap sel saraf saling berkomunikasi dengan menggunakan impuls listrik. Kejang terjadi ketika impuls listrik tersebut mengalami gangguan sehingga menyebabkan perilaku atau gerakan tubuh yang tidak terkendali.

Kejang memang menjadi gejala utama penyakit epilepsi, namun belum tentu orang yang mengalami kejang mengidap kondisi ini. Dalam dunia medis, seseorang didiagnosis dengan epilepsi setelah mengalami kejang sebanyak beberapa kali. Tingkat keparahan kejang pada tiap penderita epilepsi berbeda-beda. Ada yang hanya berlangsung beberapa detik dan ada juga yang hingga beberapa menit. Ada yang hanya mengalami kejang pada sebagian tubuhnya dan ada juga yang mengalami kejang total hingga menyebabkan kehilangan kesadaran.
Menurut data WHO, diperkirakan jumlah penderita epilepsi di dunia mencapai lima puluh juta orang. Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 2 juta orang yang menderita epilepsi. Sebenarnya yang mengkhawatirkan bukan angkanya, namun masih minimnya penanganan bagi penderita epilepsi di Indonesia.Menurut WHO, sekitar 80-90 persen penderita epilepsi di negara-negara berkembang pada umumnya, belum mendapatkan penanganan yang layak.
 

Penyebab epilepsi

Epilepsi dapat mulai diderita seseorang pada usia kapan saja, meski umumnya kondisi ini terjadi sejak masa kanak-kanak. Berdasarkan temuan penyebabnya, epilepsi dibagi menjadi tiga, yaitu epilepsi simptomatik, kriptogenik, dan idiopatik.
Pada epilepsi simptomatik, umumnya kejang-kejang diakibatkan oleh adanya gangguan atau kerusakan pada otak. Bertolak belakang dengan simptomatik, penyebab kejang pada epilepsi idiopatik sama sekali tidak ditemukan. Sedangkan pada epilepsi kriptogenik, meski tidak ditemukannya bukti kerusakan struktur pada otak, namun gangguan belajar yang diderita menunjukkan adanya kerusakan.

Gejala Epilepsi :
1. Kejang umum: Semua daerah otak (korteks) ikut terlibat ketika terjadi kejang umum. Kadang-kadang kejang jenis ini disebut sebagai kejang grand mal (grand mal seizure).

  • Orang yang mengalami kejang ini mungkin menangis atau membuat suara, kaku selama beberapa detik sampai satu menit dan kemudian mengalami gerakan ritmis pada lengan dan kaki. Seringkali gerakan berirama tersebut melambat sebelum berhenti.
  • Mata umumnya terbuka.
  • Orangnya mungkin tampak tidak bernapas dan benar-benar berubah menjadi biru. Hal ini dapat diikuti oleh periode bernafas yang mendalam dan berisik.
  • Kesadaran pulih secara bertahap dan orang tersebut mungkin bingung untuk beberapa waktu antara menit dan jam.
  • Keluar urin merupakan hal yang umum.
  • Orang tersebut seringkali bingung jika sering mengalami kejang umum.
2. Kejang parsial atau lokal: Hanya sebagian dari otak yang terlibat, sehingga hanya bagian tubuh tertentu yang dipengaruhi. Tergantung dari bagian otak yang memiliki aktivitas listrik abnormal, maka gejala dapat bervariasi.
  • Jika bagian dari otak yang mengendalikan tangan terlibat, maka hanya tangan yang menunjukkan gerakan ritmis atau tersentak.
  • Jika daerah lain dari otak yang terlibat, maka gejala mungkin termasuk sensasi aneh seperti perasaan kenyang di perut atau gerakan kecil berulang seperti memilin baju atau memukul bibir.
  • Kadang-kadang orang dengan kejang parsial seperti bingung atau bengong. Hal ini mungkin menunjukkan kejang parsial kompleks. Istilah kompleks digunakan oleh dokter untuk menggambarkan seseorang yang berada antara menjadi kondisi sadar dan tidak sadar.
3. Tidak sadar atau kejang mal petit: Kejang ini merupakan yang paling umum pada masa kanak-kanak.
  • Mungkin ada penurunan kesadaran berupa tatapan mata kosong.
  • Mungkin ada gerakan berkedip atau gerakan kecil yang berulang.
  • Umumnya kejang yang terjadi singkat, hanya berlangsung beberapa detik. Beberapa orang mungkin mengalami banyak kejang dalam sehari.